PENGANTAR ETIKA BISNIS
K. BERTENS

NAMA : SUCI RACHMAWATI
NIM : 01112021
FAKULTAS : EKONOMI ( AKUNTANSI )

UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA
BAB I
PENDAHULUAN :
BISNIS DAN ETIKA DALAM DUNIA MODERN
TIGA ASPEK POKOK DARI BISNIS
Bisnis modern merupakan realitas yang amat kompleks. Banyak faktor turut mempengaruhi dan menentukan kegiatan bisnis. Antara lain ada faktor organisatoris-manajerial, ilmiah-teknologis dan politik-sosial kultural.
SUDUT PANDANG EKONOMIS
Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Yang terjadi dalam kegiatan ini adalah tukar-menukar, jual-beli, memproduksi-memasarkan, bekerja-memperkejarkan, dan interaksi manusiawi lainnya, dengan maksud memperoleh untung. Mungkin bisnis dapat dilukiskan sebagai kegiatan ekonomis yang kurang lebih terstruktur atau terorganisasi untuk menghasilkan untung. Dalam bisnis modern untung itu diekspresikan dalam bentuk uang, tetapi hal itu hakiki untuk bisnis. Yang penting adalah kegiatan antar manusia ini bertujuan mencari untung dan karena itu menjadi kegiatan ekonomis. Tetapi perlu segera ditambahkan, pencarian keuntungan dalam bisnis tidak bersifat sepihak, tetapi diadakan dalam interaksi. Bisnis berlangsung sebagai komunikasi sosial yang menguntungkan untuk kedua belah pihak yang melibatkan diri. Bisnis bukanlah karya amal. Bisnis justru tidak mempunyai sifat membantu orang dengan sepihak, tanpa mengharapkan sesuatu kembali.

Teori ekonomi menjelaskan bagaimana dalam sistem ekonomi pasar bebas para pengusaha dengan memanfaatkan sumber daya yang langka ( tenaga kerja, bahan mentah, informasi pengetahuan, modal ) menghasilkan barang dan jasa yang berguna dalam masyarakat. Para pemilik perusahaan mengharapakan laba yang bisa dipakai untuk ekspansi perusahaan ataau tujuan lain. Untuk mencapai tujuan itu para ekonom telah mengembangkan berbagai teknik atau kiat.

Orang bisnis selalu akan berusaha membuat bisnis yang baik ( dalam arti itu ) dapat dimengerti bilang manager kepala dalam kasus ( industri kimia ) ingin mempertahankan produktifitas perusahaan selama itu.
SUDUT PANDANG MORAL
Bisnis yang baik ( good business ) bukan saja bisnis yang menguntungkan. Bisnis yang baik adalah juga bisnis yang baik secara moral. Malah harus ditekankan, arti moralnya merupaka salah satu arti terpenting bagi kata “ baik “. Perilaku yang baik – juga dalam konteks bisnis – merupakan perilaku yang sesuai dengan norma – norma moral, sedangkan perilaku yang buruk bertentangan dengan atau menyimpang dari norma-norma moral. Suatu perbuatan dapat dinilai baik menurut arti terdalam justru kalau memenuhi standar etis itu.
SUDUT PANDANG HUKUM
Tidak bisa diragukan, bisnis terikat juga oleh hukum. “HUKUM DAGANG” atau “HUKUM BISNIS” merupakan cabang penting dari ilmu hukum modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan dengan bisnis, pada taraf nasional maupun internasional. Seperti etika pula, hukum merupakan sudut pandang normatif, karena menetapkan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hukum bahkan lebih jelas dan pasti daripada etika, karena peraturan hukum dituliskan hitam diatas putih dan ada sanksi tertentu, bila terjadi pelanggaran.
TOLAK UKUR UNTUK TIGA SUDUT PNDANG INI
Untuk sudut pandang hukum pun, tolak ukurnya cukup jelas. Bisnis adalah baik, jika diperbolehkan oleh sistem hukum. Penyelundupan, misalnya adalah cara berdagang yang tidak baik, karena dilarang oleh hukum. Contoh ini cukup menarik, karena tergantung kepada cara diaturnya sistem ekonomi. Dalam sistem ekonomi pasar bebas yang konsekuen, malah tidak mungkin terjadi penyelundupan. Jika kadang kala kita ragu-ragu tentang boleh tidaknya suatu tindakan bisnis menurut segi hukum, kita bisa mengajukan masalah ini ke pengadilan dan minta keputusan hakim.
APA ITU ETIKA BISNIS ?
Kata etika dan etis tidak selalu dipakai dalam arti yang sama dan karena itu pula etika bisnis bisa berbeda artinya. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berfikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Etika sebagai refleksi berbicara tentang etika sebagai praksis atau mengambil praksis etis sebagai obyeknya. Etika sebagai refleksi menyoroti dan menilai baik buruknya perilaku orang. Etika dalam arti ini dapat dijalankan pada taraf populer maupun ilmiah. Tetapi etika sebagai refleksi bisa mencapai taraf ilmiah juga. Hal itu terjadi, bila refleksi dijalankan dengan kritis, metodis, dan sistematis, karena tiga ciri inilah membuat pemikiran mencapai taraf ilmiah. Pemikiran ilmiah bersifat metodis pula, artinya tidak semrawut tetapi berjalan secara teratur dengan mengikuti satu demi satu segala tahap yang telah direncanakan sebelumnya.
Etika sebagai ilmu mempunyai tradisi yang sudah lama. Tradisi ini sama panjangnya dengan seluruh sejarah filsafat, karena etika dalam arti ini merupakan suatu cabang filsafat. Karena itu etika sebagai ilmu sering disebut juga filsafat moral atau etika filosofis.
Etika adalah cabang filsafat yang mempelajari baik buruknya perilaku manusia. Karena itu etika dalam arti ini sering disebut juga FILSAFAT PRAKTIS. Cabang-cabang filsafat lain membicarakan masalah yang tampaknya lebih jauh dari kehidupan kongkret.
Seperti etika terapan pada umumnya, etika bisnis pun dapat dijalankan pada 3 taraf yaitu taraf makro, meso, dan mikro. Tiga taraf ini berkaitan dengan 3 kemungkinan yang berbeda untuk menjalankan kegiatan ekonomi dan bisnis.

PERKEMBANGAN ETIKA BISNIS
Sepanjang sejarah, kegiatan perdagangan atau bisnis tidak pernah luput dari sorotan etika. Perhatian etika untuk bisnis seumur dengan bisnis itu sendiri. Sejak manusia terjun dalam perniagaan, didasari juga bahwa kegiatan ini tidak terlepas dari masalah etis.
Situasi Dahulu
Berabad-abad lamanya etika berbicara pada taraf ilmiah tentang masalah ekonomi dan bisnis sebagai salah satu topik disamping sekian banyak topik lain. Dalam filsafat dan teknologi abad pertengahan pembahasan ini dilanjutkan, dalam kalangan kristen maupun islam. Topik-topik moral sekitar ekonomi dan perniagaan tidak luput pula dari perhatian filsafat dan teknologi di zaman modern.
Masa Peralihan tahun 1960 – an
Dalam masa tahun 1960-an terjadi perkembangan baru yang bisa dilihat sebagai persiapan langsung bagi timbulnya etika bisnis dalam dekade berikutnya. Dasawarsa 1960-an ini di Amerika Serikat ditandai oleh pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas, revolusi mahasiswa, penolakan terhadap kemapanan. Suasana tidak tenang ini diperkuat lagi karena frustasi yang dirasakan secara khusus oleh kaum muda dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam perang Vietnam. Dunia pendidikan menanggapi situasi ini dengan cara berbeda-beda. Salah satu reaksi paling penting adalah memberi perhatian khusus kepada social issues dalam kuliah tentang manajemen.
Etika Bisnis lahir di Amerika Serikat tahun 1970-an
Etika bisnis sebagai suatu bidang intelektual dan akademis dengan identitas sendiri mulai terbentuk di Amerika Serikat sejak tahun 1970-an. Jika sebelumnya etika membicarakan aspek-aspek moral dari bisnis disamping banyak pokok pembicaraan moral lainnya, kini mulai berkembang etika bisnis dalam arti sebenarnya. Faktor kedua yang memacu timbulnya etika bisnis sebagai suatu bidang studi yanng serius adalah krisis moral yang dialami dunia bisnis Amerika pada awal tahun 1970-an. Krisis moral dalam dunia bisnis itu diperkuat lagi oleh krisis moral lebih umum yang melanda seluruh masyarakat Amerika pada waktu itu. Sekitar tahun 1970 masih berlangsung demonstarasi-demonstrasi besar melawan keterlibatan amerika dalam perang Vietnam.
Etika bisnis meluas ke Eropa tahun 1980-an
Di Eropa Barat etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian, mula-mula di Inggris yang secara geografis maupun kultural paling dekat dengan Amerika Serikat, tetapi tidak lama kemudian juga di negara-negara Eropa Barat lainnya. Pada tahun 1987 didirikan European Business Ethics Network yang bertujuan menjadi forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis, para pengusaha dan wakil-wakil dari organisasi nasional dan internasional.
Etika bisnis menjadi fenomena global tahun 1990-an
Dalam dekade 1990-an sudah menjadi jelas, etika bisnis tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Memang benar apa yang dikatakan Richard De George : etika bisnis bersifat nasional, internasional, dan global seperti bisnis itu sendiri. Tidak mengherankan, bila etiak bisnis mendapat perhatian khusus di Negara yang memiliki ekonomi paling kuat diluar dunia Barat : Jepang. Di India, etika bisnis terutama dipraktekkan oleh Management Center for Human Values yang didirikan oleh dewan direksi dari Indian Institute for Management di Kalkutta pada tahun 1992. Juga di Hongkong selama beberapa tahun terakhir ini etika bisnis mendapat perhatian khusus, yang tentu tidak terlepas dari perubahan status kekuasaan yang berlangsung disana tahun 1997.
4. FAKTOR SEJARAH DAN BUDAYA DALAM ETIKA BISNIS
Orang yag terjun dalam kegiatan bisnis, menurut penilaian sekarang menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan terhormat, apalagi jika ia berhasil menjadi pebisnis yang sukses. Bisnis sebagai pekerjaan tidak dinilai kurang dari profesi lain, terutama kalau menghasilkan pendapatan tinggi. Jika kita mempelajari sejarah, khususnya sejarah Barat, sikap positif ini tidak selamanya menandai pandangan terhadap bisnis. Sebaliknya, berabad-abad lamanya terdapat tendensi cukup kuat yang memandang bisnis dan pedagangan sebagai kegiatan yang tidak pantas bagi manusia beradab. Pedagang tidak mempunyai nama baik dalam masyarakat Barat dimasa lampau. Orang seperti pedagang jelas-jelas dicurigakan kualitas etisnya. Sikap negatif terhadap bisnis ini berlangsung terus sampai zaman modern dan baru menghilang seluruhnya sekitar waktu industrialisasi.
Kebudayaan Yunani kuno
Masyarakat Yunani Kuno pada umumnya berprasangka terhadap kegiatan dagang dan kekayaan. Warga Negara yang bebas seharusnya mencurahkan perhatian dan waktunya untuk kesenian dan ilmu pengetahuan ( filsafat ), disamping tentu memberi sumbagsih kepada pengurusan negara dan kalau keadaan mendesak turut membela negara.
Agama Kristen
Dalam kitab suci kristen terdapat cukup banyak teks yang bernada kritis terhadap kekayaan dan uang, dalam perjanjian lama maupun perjanjian baru. Dalam alkitab itu sendiri perdagangan tidak ditolak sebagai kurang etis. Akan tetapi, karena perdagangan merupakan salah satu jalan biasa menuju kekayaan, dapat dimengerti juga kalau pada permulaan sejarah Gereja Kristen perdagangan dipandang dengan syak wasangka.

Agama Islam
Jika memandang sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan lebih positif terhadap perdagangan dan kegiatan ekonomis. Dalam periode pra-modern pun tidak ditemukan sikap kritis dan curiga terhadap bisnis.
Kebudayaan Jawa
Dipandang menurut spektrum budaya tidak semua suku bangsa di Indonesia memperlihatkan minat dan bakat yang sama dibidang perdagangan. Dalam kebudayaan jawa terlihat perbedaan yang menarik. Perbedaan antara golongan pertama dan kedua. Golongan priyayi membentuk elite politik dan kultural yang menjauhkan diri dari perdagangan. Dan golongan kedua adalah para pedagang pribumi yang menjamin perputaran roda ekonomi di Modjokuto, bersama dengan orang Tionghoa.

Leave a Reply